
Mamuju, MandarPos.com – Keberadaan usaha kandang ayam petelur di Dusun Ganno, Desa Saletto, Kecamatan Simboro, Kabupaten Mamuju, menuai keluhan dari warga sekitar. Selain diduga tidak pernah melakukan sosialisasi sebelum pembangunan kandang, warga juga mengeluhkan dampak yang ditimbulkan, seperti bau menyengat dan meningkatnya populasi lalat yang masuk hingga ke permukiman. Kondisi tersebut dinilai mengganggu kenyamanan dan kesehatan masyarakat setempat.
Salah seorang tokoh masyarakat setempat, Kisman, yang rumahnya berada tidak jauh dari lokasi kandang, mengaku masyarakat tidak pernah mendapatkan informasi maupun sosialisasi terkait rencana pembangunan kandang ayam petelur tersebut.
Menurutnya, saat proses pembukaan lahan menggunakan alat berat beberapa tahun lalu warga mengira lokasi tersebut akan digunakan untuk pembangunan kawasan perumahan.
“Awalnya yang kami tahu lokasi itu akan dijadikan perumahan. Saat lahan digusur menggunakan alat berat, tidak ada informasi bahwa akan dibangun kandang ayam petelur. Namun Tiba-tiba saja pembangunan kandang berjalan,” ujar Kisman kepada media ini.
Ia menegaskan, jika sejak awal masyarakat mengetahui bahwa lokasi tersebut akan dijadikan usaha peternakan ayam petelur yang berdekatan dengan permukiman warga, tentu akan ada pembahasan dan masukan dari masyarakat terkait dampak lingkungan yang mungkin ditimbulkan.
“Jadi warga tidak mengetahui kalau yang dibangun itu kandang ayam. Yang kami tahu itu untuk BTN atau perumahan,” tegasnya.
Keluhan warga semakin meningkat setelah kandang mulai beroperasi. Bau yang berasal dari kandang disebut sering tercium hingga ke rumah-rumah warga dan dinilai sangat mengganggu aktivitas sehari-hari.
“Kalau kami sedang makan lalu tiba-tiba bau dari kandang datang, tentu sangat mengganggu. Sebelumnya warga juga sudah pernah mendatangi kandang itu untuk menyampaikan keluhan,” ungkap kisman
Selain bau menyengat, warga juga mengeluhkan banyaknya lalat yang diduga berasal dari area peternakan dan masuk ke rumah-rumah penduduk.
Kisman berharap instansi pemerintah yang membidangi sektor peternakan segera turun tangan untuk melakukan pengawasan dan mengevaluasi keberadaan usaha tersebut.
“Kami berharap pemerintah turun langsung menegur pemilik kandang. Kalau memang persoalan bau dan lalat ini tidak bisa diatasi, lebih baik ditutup saja. Jangan sampai nanti menjadi sumber penyakit bagi masyarakat,” tegasnya.
Warga meminta agar keluhan mereka mendapat perhatian serius demi menjaga kenyamanan dan kesehatan lingkungan masyarakat di sekitar lokasi peternakan.
Hingga berita ini diterbitkan, belum ada pernyataan resmi dari pihak pemilik kandang ayam petelur terkait berbagai keluhan yang disampaikan warga.
Media ini tetap membuka ruang seluas-luasnya kepada pihak pemilik usaha maupun pihak terkait lainnya untuk memberikan klarifikasi dan hak jawab sesuai ketentuan Undang-Undang Pers. (Jo)


















