
Mamuju, MandarPos.com – Di tengah sunyinya hutan yang membentang di kawasan pegunungan Desa Lebani, Kecamatan Tapalang Barat, masih berdiri sebuah bangunan sederhana yang menjadi saksi perjalanan panjang sejarah Islam di pedalaman Kabupaten Mamuju. Bangunan itu adalah Masjid Tua Salu-Salu, sebuah rumah ibadah yang diyakini sebagai salah satu masjid tertua yang pernah berdiri di wilayah pedalaman Mamuju.
Terletak di Dusun Salu-Salu, wilayah yang dahulu merupakan bagian dari Desa Lebani dan kini masuk dalam administrasi Desa Pangasaan, masjid ini bukan sekadar bangunan tua yang lapuk dimakan usia. Ia merupakan jejak peradaban, penanda zaman, sekaligus bukti bahwa syiar Islam telah tumbuh dan berkembang di kawasan pegunungan Mamuju sejak puluhan tahun silam.
Menurut penuturan Hasanuddin, salah seorang tetua kampung, masjid tersebut diperkirakan dibangun pada sekitar tahun 1950-an. Pada masa itu, para ulama, guru mengaji, dan tokoh masyarakat berperan besar dalam menyebarkan ajaran Islam hingga ke pelosok pedalaman.
Di bawah atap masjid yang sederhana itulah masyarakat berkumpul untuk melaksanakan salat berjamaah, belajar membaca Al-Qur’an, bermusyawarah, hingga mempererat tali persaudaraan antarwarga.
Pada masanya, Masjid Salu-Salu menjadi pusat kehidupan masyarakat. Dari tempat inilah nilai-nilai agama diwariskan kepada generasi muda. Suara azan yang berkumandang dari masjid tersebut pernah menjadi penanda kehidupan yang ramai di tengah permukiman yang kini telah ditinggalkan.
Namun, waktu terus berjalan. Perubahan pola hidup masyarakat, perpindahan permukiman, serta berkembangnya akses jalan membuat warga perlahan meninggalkan kawasan lama.
Rumah-rumah yang dahulu berdiri di sekitar masjid menghilang satu per satu, sementara alam kembali mengambil ruang yang pernah dihuni manusia.
Kini, masjid tersebut berdiri dalam kesunyian. Hanya terlihat beberapa tanaman kakao, pohon kemiri, dan pohon sagu yang menjulang di sekelilingnya, sementara semak belukar mulai merambat mendekati bangunan.
Meski demikian, dinding dan tiang-tiangnya masih tetap tegak, seolah menolak tunduk pada waktu dan menjadi penjaga bisu sejarah yang terus bertahan.
Bagi masyarakat Salu-Salu dan keturunan para leluhur yang pernah mendiami kawasan itu, masjid ini memiliki nilai yang jauh lebih besar daripada sekadar bangunan fisik. Masjid tua tersebut merupakan simbol perjuangan para pendahulu dalam menanamkan ajaran Islam, membangun kebersamaan, serta membentuk identitas masyarakat pedalaman Mamuju.
Keberadaan masjid ini juga menjadi bukti bahwa wilayah pegunungan Tapalang Barat memiliki jejak sejarah Islam yang kuat. Sayangnya, hingga kini keberadaannya belum banyak dikenal publik dan belum mendapatkan perhatian yang memadai sebagai bagian dari warisan sejarah daerah.
Di tengah keterbatasan itu, secercah harapan masih terlihat. Para pemuda yang tergabung dalam Kerukunan Pemuda Dusun Salu-Salu, Desa Lebani, secara sukarela terus mendatangi lokasi untuk membersihkan area masjid dari semak belukar dan tanaman liar. Upaya sederhana tersebut menjadi bukti bahwa kepedulian terhadap warisan leluhur masih hidup di tengah generasi muda.
“Masjid Tua Salu-Salu adalah peninggalan yang tidak ternilai harganya. Ia bukan hanya milik masyarakat setempat, melainkan bagian dari sejarah Islam Kabupaten Mamuju yang patut dijaga bersama. Jika bangunan ini hilang, maka bukan hanya sebuah masjid yang lenyap, tetapi juga sebagian jejak perjalanan peradaban yang pernah tumbuh di tanah Mamuju,” ujar Irwan.
Karena itu, keberadaan Masjid Tua Salu-Salu sudah selayaknya mendapat perhatian dari pemerintah, pemerhati sejarah, tokoh agama, dan masyarakat luas. Sebagai warisan leluhur yang masih berdiri kokoh hingga hari ini, masjid tersebut layak dilestarikan agar generasi mendatang tetap dapat menyaksikan dan mengenang jejak peradaban Islam yang pernah berkembang di pedalaman Mamuju.
Di balik kesunyian hutan yang mengelilinginya, Masjid Tua Salu-Salu terus berdiri. Diam, namun bercerita. Tua, namun tetap menyimpan nilai sejarah yang tak lekang oleh waktu. **

















