
MAMUJU – Mandarpos.com
Rencana aktivitas tambang Logam Tanah Jarang (LTJ) di Desa Botteng, Kecamatan Simboro Kabupaten Mamuju, kembali menuai penolakan keras. Kali ini, suara penolakan datang dari tokoh perempuan Botteng, Rhena J. Tapion, yang menilai proyek tambang tersebut mengancam ruang hidup masyarakat dan masa depan generasi mendatang.
Dalam pernyataannya, Jumat’15/05/2026
Rhena menegaskan bahwa masyarakat Botteng tidak akan tinggal diam ketika tanah kelahiran mereka mulai dipandang hanya sebagai objek investasi dan sumber keuntungan ekonomi semata.
“Sebagai perempuan berdarah Botteng, saya tidak bisa tinggal diam ketika tanah kelahiran kami mulai dipandang hanya sebagai ‘harta karun’ bernilai ekonomi. Di balik istilah logam tanah jarang, rare earth, dan proyek hilirisasi yang kini dibicarakan pemerintah di Mamuju, ada kehidupan masyarakat, ada sumber air, ada tanah adat, ada kebun, dan ada masa depan anak-anak kami yang dipertaruhkan,” tegas Rhena.
Ia mengakui pemerintah menyebut Sulawesi Barat memiliki potensi besar logam tanah jarang yang kini menjadi incaran dunia untuk kebutuhan industri teknologi dan kendaraan listrik. Namun menurutnya, Botteng bukan sekadar titik tambang dalam peta investasi nasional.
“Botteng adalah rumah, ruang hidup, dan warisan leluhur yang harus dijaga,” lanjutnya.
Rhena juga menyoroti berbagai dampak buruk pertambangan yang telah terjadi di sejumlah daerah, mulai dari kerusakan lingkungan, krisis air bersih, konflik sosial, hingga hilangnya lahan pertanian masyarakat.
“Pengalaman di banyak daerah menunjukkan bahwa tambang sering meninggalkan kerusakan ekologis, konflik sosial, dan kemiskinan masyarakat lokal setelah sumber daya habis dieksploitasi. Kami tidak ingin Botteng mengalami nasib yang sama,” tegas Rhena
Menurutnya, perempuan menjadi kelompok yang paling merasakan dampak ketika lingkungan mengalami kerusakan.
“Ketika air tercemar, perempuan yang mencari air. Ketika hasil kebun menurun, perempuan yang memikirkan dapur keluarga. Ketika konflik lahan muncul, perempuan dan anak-anak menjadi kelompok paling rentan,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa penolakan terhadap tambang bukan berarti anti pembangunan. Masyarakat Botteng, kata dia, hanya menginginkan pembangunan yang adil, berkelanjutan, dan tidak menghancurkan alam serta ruang hidup warga.
“Kami percaya kemajuan daerah tidak harus dibangun dengan menghancurkan alam. Botteng memiliki potensi pertanian, budaya, dan sumber daya manusia yang bisa dikembangkan tanpa merusak gunung dan tanah kami,” tegas Rhena.
Di akhir pernyataannya, Rhena menyampaikan sikap tegas perempuan Botteng terhadap rencana tambang LTJ.
“Atas nama perempuan Botteng dan generasi yang akan datang, kami menyatakan dengan tegas: tanah kami bukan untuk dihancurkan demi kepentingan sesaat. Kami menolak tambang yang mengancam ruang hidup masyarakat Botteng,” ucap Rhena J. Tapion.



















