WARGA ADAT DAN PEMUDA BOTTENG KEPUNG SOSIALISASI LTJ, TEGAS TOLAK TAMBANG DI TANAH ADAT

2

MAMUJU, MandarPos.com – Penolakan terhadap rencana kegiatan eksplorasi pengeboran mineral logam tanah jarang (LTJ) Blok Botteng, Kecamatan Simboro, Kabupaten Mamuju, kembali mencuat.

Di tengah berlangsungnya kegiatan sosialisasi eksplorasi pengeboran yang dilakukan PT Perminas di Desa Botteng, sejumlah masyarakat adat dan pemuda yang tergabung dalam kelompok warga lingkar distrik Botteng menggelar aksi unjuk rasa sebagai bentuk penolakan terhadap aktivitas pertambangan LTJ.

Aksi tersebut dilakukan tidak jauh dari lokasi sosialisasi perusahaan. Massa menyampaikan kekhawatiran terhadap rencana eksplorasi yang dinilai berpotensi memberikan dampak terhadap lingkungan, kehidupan masyarakat, serta keberadaan tanah adat Botteng.

Salah seorang pemuda berdarah Botteng yang ikut langsung dalam aksi penolakan, Umar, meminta pemerintah tidak membiarkan aktivitas pertambangan berjalan tanpa mempertimbangkan aspirasi masyarakat setempat.

“Jangan hadir di tanah Botteng untuk merusak peradaban tanah adat Botteng,” tegas Umar.

Menurutnya, masyarakat Botteng memiliki kekhawatiran terhadap dampak yang muncul apabila kegiatan eksplorasi hingga pengelolaan tambang dilakukan di desa botteng

Umar menegaskan, pemerintah harus mendengarkan suara masyarakat sebelum mengambil keputusan yang berkaitan dengan rencana pertambangan LTJ di wilayah tersebut.

Ia juga mengingatkan agar aspek lingkungan, keselamatan masyarakat, serta keberadaan wilayah yang dianggap memiliki nilai adat tidak diabaikan dalam setiap tahapan kegiatan pertambangan.

“Kami meminta pemerintah menghentikan aktivitas pertambangan yang berpotensi mengancam lingkungan dan kehidupan masyarakat Botteng,” ujarnya.

Penolakan tersebut menunjukkan bahwa persoalan tambang LTJ di Botteng bukan hanya menyangkut aktivitas eksplorasi, tetapi juga telah menjadi perhatian masyarakat yang mengkhawatirkan masa depan lingkungan dan tanah yang mereka anggap sebagai bagian dari ruang hidup serta warisan adat.

Pantauan media ini Aksi unjuk rasa di kawal ketat pihak kepolisisan dari polresta Mamuju (**)